Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berfikirlah di Waktu Pagi

Sabtu, 26 September 2026 | September 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-27T08:26:57Z

Saat sholat Jum’at di masjid Kompleks Diklat Pemkab Probolinggo beberapa waktu lalu, ada kutipan menarik yang disampaikan khatib. Sayangnya saya tidak tahu nama beliau dan belum menyampaikan terima kasih atas kata yang inspiratif ini. Yaitu, “Berpikirlah di waktu pagi, bekerjalah di waktu siang, makanlah di waktu sore dan tidurlah di waktu malam”.

Jika dibaca sekilas, kata-kata itu nampak biasa saja. Saya awalnya juga begitu, sempat berkomentar dalam hati, “Ngapain juga soal tidur malam dibahas seperti itu”. Apalagi saat kutipan itu saya tulis di dinding FB, ada yang nanya, “Makannya koq cuma sore? Puasa makan siang ya?”. Hehehe…, jadi lucu akhirnya. Padahal sesungguhnya tidak demikian adanya.

Setelah saya ikuti uraian sang khatib lebih lanjut, ternyata kutipan itu berbicara soal hakikat hidup. Beliau menjelaskan pepatah Arab itu seperti ini:

Bahwa di waktu pagi (saat masih anak-anak/ remaja), kita harus berpikir. Kita harus banyak belajar dan menempa diri menjadi insan berkualitas. Tidak cuma ilmu agama, tapi juga keahlian-keahlian teknis tertentu yang kelak menghantarkan kita pada maqam muslim seutuhnya.

Bahwa di waktu siang (saat dewasa), kita harus bekerja. Dalam artian, kita harus menunjukkan kinerja terbaik kita sebagai makhluk dengan jalan beramal salih. Bahkan sebisa mungkin hingga “membanting tulang”, mengharap ridlo Allah.

Bahwa di waktu sore (saat sudah renta/ tua), kita harus makan. Maksudnya pada fase ini seyogynya kita sudah dapat menikmati lezatnya beribadah sekaligus memperbanyak bekal menuju pertemuan agung bersama Sang Khalik. Beramal salih benar-benar terasa nikmatnya, tanpa beban.

Bahwa di waktu malam (saat ajal menjemput), kita harus tidur. Ya benar, jika maut menghampiri, kita memang wajib tidur. Mau tidak mau, ya harus mau. Namun sepantasnya seorang musim tidur dalam keadaan kenyang atas berjuta amal salih sehingga fase ini terasa sangat nyaman. Dan akhirnya kita lelap dalam perjamuan agung di kampung akhirat.

Subhanallah, begitulah kira-kira pemahaman saya atas uraian khatib itu. Semoga menjadi ibroh buat semua dan hanya satu kalimat, “Tak ada kata terlambat untuk memulai amal salih, wherever and mhenever we are…”. [*]

Tulisan asal: https://dapurperadaban.wordpress.com/category/hikmah/page/2/

×
Berita Terbaru Update