Pertanyaan itu tentunya mengharuskan kita untuk introspeksi diri dan berpikir keras memetakan strategi ke depan. Romantisme akan perjuangan mahasiswa saat menumbangkan rezim Soeharto di 1998 silam, seakan menjadi tema horor kali ini. Pun ketika para aktifis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP mengusung soal idealisme dan reformasi, bisa jadi hanya menuai komentar miring, “Ah, ada-ada saja…”.
Terus terang, budaya diskusi dalam komunitas mahasiswa di kalangan kita memang sesuatu hal yang tabu. Kalaulah ada pendapat bahwa kampus dengan aneka dialektika ilmiahnya seharusnya mampu mengubah pola pikir mahasiswanya, maka hal itu hanya benar dalam tataran retorika. Lihat saja, kehidupan kampus hanya menjadi sebuah rutinitas tanpa henti setiap harinya. Bahkan kehidupan kampus terpola menjadi sebuah kegiatan monoton dengan hanya berupa mendengarkan penjelasan dosen yang sejatinya sudah ditekskan dalam bentuk buku. Yang menjadi pertanyaan, pahamkah mereka tentang apa yang mereka pelajari?
Saya sangat memimpikan segera terbentuknya komunitas mahasiswa, hal ini beranjak dari rasa keprihatinan akan minimnya minat mahasiswa untuk terjun ke dalam organisasi. Pola kehidupan mahasiswa menjadi stagnan. Kita tahu bersama bagaimana rutinitas kebanyakan mahasiswa di kampus ini, terlebih bagi mereka yang kuliah sambil kerja. Sore ke kampus, malam pulang, setelah itu apa? Di dalam kelas saat perkuliahanpun, komunikasi yang terjadi kebanyakan satu arah. Jarang sekali dosen memunculkan wahana diskusi sehingga jangan heran kalau mahasiswanya lebih memilih otak-atik HP, corat-coret kertas yang tidak jelas maunya, jahilin teman sebelah dan banyak lagi ‘kreatifitas’ lainnya. Ya… daripada BeTe mendengarkan ceramah dosen yang ujung-ujungnya disajikan secara lebih lengkap di foto copy-an materi. Paling-paling yang keluar di ujian, ya… itu. Beres, khan?!
Tapi ternyata tidak sesederhana ini, kawan! Apalagi saat ini kita menyandang gelar ‘mahasiswa’, yang hampir di sebagian besar negara ketiga dipercaya sebagai agen perubahan. Terus terang saat ini saya merasakan bahwa kondisi mahasiswa ada dalam posisi ambigu. Beban idealisme yang merupakan implikasi ideologis mahasiswa sebagai ‘kelas elit’ tertambat di satu sisi. Sementara, tuntutan untuk menjalankan fungsinya sebagai kaum intelek selalu menguntit. Jadilah, ia berjalan dengan dua kaki bersamaan. Satu kaki berjalan pada kekentalan intelektualitas, normatif dan kekenyalan prinsip. Sedangkan kaki yang lain terantuk pada kenyataan. Ia harus bergulat dan patuh pada kultur seadanya, datang kuliah semaunya. Para dosenpun memberi contoh jarang mengadakan riset dan semacamnya sehingga mahasiswa tidak memiliki insting ilmiah. Keadaan ini diperparah dengan adanya dogma ‘kuliah ini asal dapat gelar’ saja koq. Wow..
Dari asumsi tersebut sudah saatnya untuk berbenah, berlari mengejar ketertinggalan tradisi kampus yang dipertontonkan mahasiswa Trisakti, UGM, ITB, Unair dan lainnya. Kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu luang dengan berdiskusi di pojok-pojok taman, kantin, pinggir gerbang masuk kampus, masjid hingga lapangan rumput. Nah, kita?? Daripada pusing-pusing memikirkan kenaikan harga beras, mendingan mojok dengan pujaan hati.
Sudahlah, menjadi ‘aktivis kuliah’ saja tidak cukup untuk mewujudkan ‘peran agung’ mahasiswa. Dibutuhkan kerja keras, keuletan, keterampilan dan kreativitas dalam membuat terobosan-terobosan cerdas yang mampu menjawab tantangan ke depan. Keberhasilan tidak datang secara tiba-tiba (given) tetapi membutuhkan perjuangan (struggle) dan pengorbanan (sacrifice). Harus juga disadari, teori tanpa realitas itu tak ubahnya ‘tong kosong nyaring buntinya’. Lalu, realita adalah gumpalan kreativitas. Kreativitas adalah ciri mahasiswa yang produktif, mahasiswa yang mampu menggali dan mengembangkan segala potensinya.
Kreativitas lahir dari adanya kegelisahan. Indikasi kegelisahan ini biasanya terwujud dalam ‘ekspresi nyeleneh’. Ini bukan aib yang harus digerus dan diberangus, tetapi disuburkan agar mampu mengkounter hal-hal positif. Dalam skala kecil, langkah konkret perilaku ‘nyeleneh’ dapat berwujud dalam bentukan-bentukan komunitas atau kelompok diskusi. Kehadiran mereka memang sebagian kecil bentuk kegelisahan, namun keberadaannya tidak bisa disepelekan bahkan harus didukung oleh semua pihak. Karena, semakin banyak kelompok diskusi atau terbentuknya komunitas, semakin mudah menghidupkan tradisi intelektual mahasiswa. Hingga, mahasiswa tidak hanya pepesan kosong, ‘pandai teori tapi nihil dalam aplikasi’. Yang harus dicatat, “berbuat sedikit lebih berarti daripada tidak sama sekali”. Ok, fren?! [*]
Tulisan asal: https://dapurperadaban.wordpress.com/category/kampus-panca-marga/page/4/
